Nama Ibrahim bin Adham kerap muncul dalam khazanah kisah sufi sebagai contoh penguasa yang rela melepaskan segala kemewahan. Bagi pembaca di Padang dan Sumatera Barat yang akrab dengan nilai zuhud serta nasihat tarekat, jejak spiritualnya terasa dekat: kekuasaan luas, istana megah, lalu satu pertanyaan yang memaksa hati memilih jalan lain.
Ia pernah memegang tahta Balkh dengan wilayah yang sangat luas. Ke mana pun pergi, rombongan kebesaran ikut bergerak: empat puluh pedang emas dan empat puluh tongkat kebesaran emas diusung di depan dan di belakang. Sutra, ranjang mewah, dan singgasana menjadi bagian rutin hidupnya—sampai suatu malam mengubah arah hidup itu.
Catatan Attar dan potret raja yang serba cukup
Fariduddin Attar pada abad ke-13 menuliskan riwayat ini dalam Tadzkiratul Auliya. Ibrahim digambarkan bukan tokoh miskin spiritual semata, melainkan penguasa yang sudah memiliki apa yang diimpikan banyak orang: tahta, pengaruh, dan istana. Justru dari puncak itu muncul kegelisahan yang tidak bisa dibeli harta.
Kemewahan lahiriah tidak otomatis menenangkan batin. Dalam narasi Attar, kontras antara gemerlap istana dan panggilan mencari Allah menjadi poros cerita. Pembaca diajak melihat bahwa status tinggi bisa menjadi tirai, bukan jembatan, bila hati lengah.
Malam di atap istana dan metafora unta yang hilang
Pada suatu malam, Ibrahim tertidur di kamar istananya. Langit-langit berderik seolah ada orang berjalan di atas atap. Ia terbangun dan berseru menanyakan siapa di sana. Suara menjawab: seorang sahabat yang kehilangan unta dan sedang mencarinya di atas atap.
Ibrahim menganggap jawaban itu mustahil. Mencari unta di atas atap terdengar gila. Balasan dari atap justru menusuk: bagaimana mungkin seseorang hendak mencari Allah sambil berpakaian sutra dan tidur di ranjang emas dalam kemewahan istana? Kalimat itu membuat hatinya bergetar. Tidur malam itu tidak lagi nyenyak; gelisah menguasai sisa malam.
Siang di balairung dan tamu yang menakutkan
Ketika siang tiba, ia kembali ke ruang pertemuan dan duduk di singgasana. Pikirannya masih kacau. Para menteri berdiri di tempatnya, hamba berbaris sesuai tingkatan, dan majelis terbuka dimulai. Suasana resmi itu retak saat seorang lelaki berwajah menakutkan masuk tanpa diumumkan.
Tidak seorang pun berani menanyakan identitasnya. Lidah para pejabat kelu. Lelaki itu tenang melangkah ke depan singgasana. Ibrahim bertanya apa yang diinginkannya. Jawabannya singkat: ia baru saja sampai di persinggahan itu. Kehadiran sosok tersebut memperkuat guncangan batin yang sudah dimulai semalam di atas atap.
Dari ranjang emas menuju pilihan zuhud
Pertanyaan soal mencari Allah di tengah sutra dan ranjang emas tidak berhenti sebagai sindiran. Ia menjadi awal perjalanan spiritual: Ibrahim bin Adham akhirnya meninggalkan kemewahan dunia dan memilih jalan sufi. Tahta Balkh, simbol kekuasaan, ditinggalkan demi disiplin batin yang lebih keras dan lebih jujur pada tujuan akhirat.
Bagi masyarakat Minangkabau yang memegang adat basandi syarak, syarak basandi Kitabullah, kisah semacam ini sering dipakai sebagai cermin—bukan untuk meniru detail istana abad silam, melainkan untuk menguji apakah kenyamanan sehari-hari menunda zikir dan tanggung jawab moral. Tanpa menambah-nambahkan peristiwa di luar riwayat yang dikenal, intinya tetap sama: kekayaan tidak menjamin dekatnya hati pada Tuhan.
Ibrahim bin Adham dikenang justru karena berani mematahkan rantai kemewahan setelah hati tersentuh. Malam derit atap, metafora unta, wajah tamu di balairung, dan keputusan melepas takhta menyusun satu garis: pencarian Allah menuntut kejujuran posisi, bukan sekadar gemerlap istana. Itulah warisan yang terus dibaca ulang di banyak majelis, termasuk di ranah lokal yang menghargai nasihat kesufian.
Sumber: Republika.
