Gelombang seruan boikot Adidas kembali mengemuka setelah kampanye terbaru merek olahraga asal Jerman itu di Israel menampilkan mantan anggota militer setempat. Isu ini menyebar cepat di media sosial dan menjadi perbincangan konsumen, termasuk di sejumlah kota besar Indonesia seperti Padang yang ramai mengikuti perkembangan merek global.
Inti kontroversi terletak pada pilihan model untuk mempromosikan layanan Single Shoe Service. Layanan tersebut memungkinkan pembeli mendapatkan satu buah sepatu saja, bukan sepasang, sehingga dinilai relevan bagi penyandang disabilitas atau pengguna kaki prostetik.
Siapa model yang memicu polemik
Dalam materi kampanye, Adidas menampilkan Shalev Biton. Ia merupakan mantan tentara Israel yang kehilangan kaki kiri setelah terluka saat bertugas pada 2021. Visual kampanye memperlihatkan Biton memanfaatkan layanan sepatu tunggal lalu kembali berlari dengan kaki prostetik.
Fakta tersebut menjadi sorotan karena timing dan konteks geopolitik yang sedang sensitif. Banyak pengamat menilai pemilihan wajah kampanye tidak lepas dari persepsi publik terhadap konflik yang berkepanjangan di kawasan tersebut.
Mengapa aktivis pro-Palestina bereaksi
Aktivis yang mendukung Palestina mempertanyakan keputusan Adidas. Mereka menyoroti banyaknya warga Gaza yang mengalami amputasi akibat perang, sehingga menampilkan mantan prajurit Israel dalam narasi tentang kehilangan anggota tubuh dinilai tidak peka.
Kritik tidak hanya menyasar estetika iklan, melainkan juga sinyal moral merek global. Sebagian netizen menilai perusahaan seharusnya lebih berhati-hati memilih duta kampanye ketika isu kemanusiaan masih memanas di ruang publik.
Seruan boikot di media sosial
Tagar dan unggahan yang menyerukan boikot Adidas bermunculan di berbagai platform. Pengguna media sosial menuding kampanye itu mengabaikan penderitaan sipil Palestina yang juga kehilangan anggota tubuh. Sebagian konsumen mengaku akan menunda pembelian produk Adidas sebagai bentuk protes.
- Fokus kritik: pemilihan mantan tentara Israel sebagai wajah kampanye amputasi dan sepatu tunggal.
- Sasaran keluhan: kepekaan merek terhadap korban sipil di Gaza.
- Bentuk aksi: seruan boikot dan ajakan menunda belanja produk Adidas.
Di sisi lain, pendukung kampanye menekankan sisi inklusivitas layanan Single Shoe Service. Mereka menilai bantuan bagi pengguna prostetik tetap relevan secara fungsional, terlepas dari latar belakang model yang dipilih.
Dampak bagi konsumen dan pasar merek di Indonesia
Bagi pembaca di Padang dan Sumatera Barat, polemik ini terutama terasa lewat percakapan daring dan pertimbangan belanja produk olahraga impor. Belum ada data resmi yang merinci dampak penjualan lokal, namun isu boikot merek global biasanya memengaruhi sentimen generasi muda yang aktif di media sosial.
Retailer dan pecinta sepatu di kota-kota Sumbar umumnya menunggu klarifikasi resmi merek sebelum mengambil sikap. Transparansi komunikasi krisis menjadi penentu apakah kepercayaan konsumen dapat dipertahankan.
Apa yang perlu dicermati ke depan
Perusahaan multinasional kerap menghadapi risiko reputasi ketika kampanye lokal bentrok dengan isu internasional. Adidas, seperti merek lain, dituntut menyeimbangkan tujuan pemasaran inklusif dengan sensitivitas politik dan kemanusiaan.
Publik Indonesia, termasuk komunitas olahraga di Padang, cenderung menilai merek dari konsistensi nilai yang diusung. Langkah komunikasi berikutnya dari Adidas akan menentukan apakah seruan boikot mereda atau justru meluas.
Secara keseluruhan, kasus ini mengingatkan bahwa iklan bukan hanya soal produk, melainkan juga pilihan simbol yang dibaca khalayak lintas negara. Konsumen diharapkan menimbang fakta kampanye secara utuh sebelum ikut menyebarkan ajakan boikot atau pembelaan.
Sumber: Sindo News.
