METRO
Indeks
Nasional

Figur Konsolidator, Said Aqil Menguat di Bursa Rais Aam NU

Nama KH Said Aqil Siroj kembali mencuat dalam perbincangan pencarian sosok Rais Aam Pengurus Besar Nahdlatul Ulama. Mantan Ketua Umum PBNU dua periode itu dinilai memiliki bekal pengalaman, kemampuan merangkul pihak yang berbeda, serta kebiasaan turun langsung saat organisasi menghadapi persoalan. Pembahasan itu mengemuka dalam serial Muktamar ke-35 NU bertema pencarian figur ideal Rais Aam di Jakarta, Senin (24/8/2026).

Bagi warga nahdliyin di berbagai daerah, termasuk Sumatera Barat yang basis NU-nya aktif mengikuti dinamika pusat, sosok pimpinan puncak selalu menjadi perhatian. Rais Aam bukan hanya simbol keulamaan, melainkan penentu arah moral dan kohesi organisasi di tengah tantangan zaman.

Penilaian tokoh senior atas rekam jejak kepemimpinan

Tokoh senior NU KH Adnan Anwar menegaskan pandangannya setelah lama mengikuti kabinet dan berinteraksi dengan Said Aqil. Menurutnya, dua periode kepemimpinan mantan ketua umum tersebut relatif berjalan aman. Persoalan yang muncul, terutama yang bersifat furu’ atau cabang, dapat diselesaikan tanpa meledak menjadi konflik terbuka.

Adnan menambahkan bahwa di internal organisasi hampir tidak muncul guncangan yang berujung perpecahan. Masalah tetap ada, kata dia, namun tidak sampai merusak soliditas jamiyah. Stabilitas semacam itu dianggap penting menjelang muktamar yang akan menentukan arah kepengurusan berikutnya.

Konsolidator yang terbiasa meredam gesekan

Keunggulan yang berulang kali disorot adalah watak konsolidator. Said Aqil digambarkan sebagai figur yang tidak hanya memberi arahan dari meja rapat, tetapi juga menyentuh langsung akar persoalan. Pendekatan itu membuat perbedaan pendapat lebih mudah dicarikan titik temu.

Dalam organisasi sebesar NU, kemampuan merangkai suara kiai, pengurus wilayah, hingga basis pesantren menjadi modal tersendiri. Tanpa jembatan komunikasi yang kuat, isu kecil berisiko membesar. Rekam jejak yang relatif tenang pada masa kepemimpinannya dijadikan argumen bahwa ia memahami irama internal nahdliyin.

Pengalaman geopolitik dan tantangan organisasi modern

Selain urusan internal, Adnan menyoroti kebiasaan Said Aqil berinteraksi dengan isu geopolitik. Dimensi itu dipandang krusial karena NU kini bergerak di ruang yang lebih luas: wacana keumatan global, hubungan antarlembaga, serta posisi Indonesia di tengah pergeseran politik dunia.

Serial diskusi menuju Muktamar ke-35 memang menempatkan pencarian Rais Aam sebagai salah satu poros pembahasan. Figur yang dipilih diharapkan mampu menjaga identitas, memperkuat konsolidasi, sekaligus menempatkan NU pada peran yang relevan di kancah nasional maupun internasional. Dalam kerangka itu, pengalaman mengelola organisasi di masa silam menjadi salah satu tolok ukur yang diangkat para tokoh.

Apa yang dicermati warga NU di daerah

Di Padang dan wilayah Sumbar pada umumnya, perkembangan bursa Rais Aam biasanya disimak lewat pengurus cabang, forum pesantren, dan diskusi warga. Meskipun keputusan final berada di forum muktamar, sinyal dari Jakarta sering memengaruhi ekspektasi di tingkat lokal. Mereka cenderung menginginkan pimpinan yang tidak hanya kuat secara keilmuan, tetapi juga mampu menjaga suasana damai di tubuh organisasi.

  • Rekam jejak kepemimpinan yang relatif stabil
  • Kemampuan menyelesaikan masalah cabang tanpa perpecahan
  • Watak konsolidator dan pendekatan langsung ke lapangan
  • Kepekaan terhadap konteks geopolitik dan peran global NU

Sejauh ini, penguatan nama Said Aqil masih berada pada ranah penilaian tokoh dan wacana publik, bukan putusan resmi. Proses muktamar akan menentukan siapa yang akhirnya dipercaya menduduki posisi Rais Aam. Yang jelas, kriteria pengalaman, kestabilan internal, serta kemampuan membaca tantangan zaman menjadi benang merah yang terus dibicarakan.

Bagi pembaca di ranah Minang yang mengikuti sepak terjang NU, pantas mencermati kelanjutan serial pembahasan ini. Figur yang terpilih kelak akan memengaruhi corak dakwah, hubungan antarumat, dan posisi organisasi di tengah dinamika kebangsaan. Hingga forum formal digelar, rekam jejak para calon—termasuk Said Aqil Siroj—akan terus diuji lewat perdebatan gagasan dan penilaian para kiai.

Sumber: Sindo News.

Tag: Said Aqil Siroj, Rais Aam PBNU, Muktamar NU, Nahdlatul Ulama, tokoh NU, konsolidasi NU, PBNU, berita nasional