METRO
Indeks
Nasional

Teknologi Filter UPI Hadirkan Air Bersih bagi 20 KK di Cibiru Wetan

Persoalan air bersih Cibiru Wetan yang selama ini mengganggu warga RW 10 mulai terurai setelah sistem filterisasi otomatis dihibahkan tim pengabdian Universitas Pendidikan Indonesia. Sebanyak 20 kepala keluarga di Desa Cibiru Wetan, Kabupaten Bandung, kini dapat memanfaatkan air sumur yang sebelumnya kekuningan dan berbau besi menjadi lebih layak konsumsi rumah tangga.

Program itu digelar Prodi Teknik Komputer UPI pada awal Agustus 2026. Fokusnya bukan sekadar memasang perangkat, melainkan memastikan masyarakat mampu mengoperasikan dan merawat fasilitas secara mandiri agar manfaatnya berlanjut.

Latar persoalan air sumur warga

Air dari pompa dan sumur galian di lingkungan tersebut kerap tampil keruh kekuningan disertai aroma besi. Kondisi itu membatasi pemakaian untuk keperluan sehari-hari dan mendorong warga mencari solusi yang lebih stabil. Kehadiran filter otomatis menjawab kebutuhan praktis tanpa menuntut warga beralih sumber air secara total.

Inisiatif ini berada di bawah payung Pengabdian kepada Masyarakat berjudul penerapan teknologi water filtering system bagi Desa Cibiru Wetan. Arah program selaras dengan indikator pembangunan berkelanjutan terkait akses air bersih dan sanitasi.

Siapa yang menggerakkan program hibah

Kegiatan diketuai Anugrah Adiwilaga. Anggota tim meliputi Munawir, Muhammad Taufik Dwi Putra, Deden Pradeka, Devi Aprianti Rimadhani Agustini, dan Zahra Khaerunnisa. Di lapangan, mahasiswa Pascalis Alvin, Bagas Yogta, Dimastio Setiawan, Ikhwan Rizki, serta Lumban Tobing Jonathan ikut memasang perangkat dan mendampingi warga.

Selain instalasi, tim memberi pelatihan pengoperasian serta perawatan. Pendekatan itu dimaksudkan agar fasilitas tidak berhenti berfungsi setelah tim kampus meninggalkan lokasi. Model pendampingan semacam ini relevan dicermati daerah lain, termasuk Sumatera Barat, yang kerap mengandalkan perguruan tinggi untuk penguatan layanan dasar desa.

Cara kerja sistem penyaringan bertahap

Alur pengolahan dimulai di tabung FRP berisi zeolit, pasir silika, manganese greensand, dan karbon aktif. Tahap berikutnya memakai membran ultrafiltrasi. Sterilisasi dilanjutkan dengan sinar ultraviolet serta injeksi hidrogen peroksida yang diatur unit mikrokontroler agar dosis dan siklus kerja lebih terkendali.

Rangkaian tersebut menargetkan penurunan kekeruhan, bau, dan kontaminan yang kerap muncul pada air tanah setempat. Dengan pengendalian otomatis, warga tidak perlu mengatur setiap tahap secara manual setiap hari.

  • Pra-filter media zeolit, silika, manganese greensand, dan karbon aktif
  • Membran ultrafiltrasi untuk partikel halus
  • Sterilisasi ultraviolet dan injeksi hidrogen peroksida berbantuan mikrokontroler

Jadwal pemasangan, apresiasi warga, dan evaluasi

Sosialisasi digelar di Balai Desa Cibiru Wetan pada Kamis, 6 Agustus 2026. Instalasi fisik bersama warga berlangsung Jumat hingga Sabtu, 7–8 Agustus 2026, sehingga sistem segera bisa dipakai. Ketua RW 10, Adi M Lukman, menyampaikan terima kasih atas hibah itu dan menegaskan rencana membentuk kepengurusan khusus agar operasional serta perawatan berjalan tertib.

Program diarahkan mendukung SDGs tujuan keenam tentang air bersih dan sanitasi, tujuan ketiga tentang kesehatan, serta tujuan kesembilan tentang inovasi dan infrastruktur. Tim menjadwalkan evaluasi kualitas air sekaligus pemahaman warga pada Rabu, 2 September 2026, lalu pemantauan kendala teknis dan nonteknis pada Jumat, 4 September 2026.

Bagi pembaca di Padang dan Sumatera Barat, kisah ini menampilkan contoh konkret kolaborasi kampus–desa pada isu air layak. Pola pelatihan, kepengurusan lokal, dan jadwal evaluasi menjadi catatan penting agar hibah teknologi tidak berhenti pada seremoni pemasangan, melainkan benar-benar menopang kebutuhan harian warga.

Sumber: Republika.

Tag: air bersih, Cibiru Wetan, filterisasi otomatis, UPI Bandung, pengabdian masyarakat, SDGs, Kabupaten Bandung, teknologi tepat guna