Pemerintah Daerah Istimewa Yogyakarta menempuh langkah penguatan identitas dengan memasukkan pendidikan khas kejogjaan ke dalam pelaksanaan tridarma perguruan tinggi. Kebijakan ini menempatkan nilai budaya setempat bukan sekadar pelengkap, melainkan bagian yang dijalankan lewat pengajaran, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat. Bagi pembaca di Padang dan Sumatera Barat, isu serupa selalu menarik karena daerah-daerah di Indonesia kian mencari cara merawat akar budaya lewat lembaga pendidikan formal.
Tridarma perguruan tinggi selama ini menjadi kerangka wajib bagi kampus di tanah air. Dengan memasukkan muatan kejogjaan, DIY berupaya agar lulusan tidak hanya cakap secara akademik, tetapi juga memahami etiket, sejarah, dan cara hidup yang diwariskan di lingkungan Yogyakarta. Pendekatan semacam ini dinilai relevan di tengah arus globalisasi yang sering membuat generasi muda jarang bersentuhan dengan nilai lokal.
Arti Pendidikan Khas Kejogjaan di Lingkungan Kampus
Pendidikan khas kejogjaan merujuk pada penanaman nilai, etika, dan pengetahuan budaya yang tumbuh di Yogyakarta. Dalam praktik kampus, muatan tersebut dapat muncul lewat mata kuliah pengantar budaya, kegiatan orientasi mahasiswa, riset tentang warisan lokal, hingga program pengabdian yang melibatkan komunitas adat dan seni tradisional. Tujuannya agar civitas akademika melihat kearifan setempat sebagai sumber ilmu, bukan sekadar atraksi wisata.
Penempatan nilai kejogjaan di dalam tridarma juga memberi sinyal bahwa perguruan tinggi berperan menjaga kontinuitas budaya. Ketika penelitian mahasiswa dan dosen menyentuh tema bahasa, tata krama, arsitektur, atau sistem sosial Jawa Mataram, hasilnya bisa memperkaya khazanah ilmiah sekaligus memperkuat rasa memiliki terhadap daerah.
Tridarma sebagai Jalur Internalisasi Nilai Lokal
Pada jalur pendidikan, kampus dapat merancang kurikulum yang memadukan kompetensi keilmuan dengan pemahaman kontekstual tentang Yogyakarta. Pada jalur penelitian, topik-topik kejogjaan berpeluang menjadi payung kajian lintas prodi, mulai dari humaniora hingga tata kota. Sementara pada pengabdian masyarakat, mahasiswa diajak terjun langsung mendampingi pelestarian budaya, edukasi generasi muda, atau dokumentasi tradisi yang mulai jarang dipraktikkan.
Sinergi tiga jalur itu membuat kebijakan tidak berhenti pada seremoni. Internalisasi nilai berjalan lewat aktivitas rutin kampus sehingga mahasiswa dari luar daerah pun mendapat paparan yang terstruktur. Model ini sering dibahas di berbagai provinsi, termasuk di Sumatera Barat, ketika berbicara tentang bagaimana adat dan akademik bisa saling menguatkan tanpa saling meniadakan.
Relevansi bagi Daerah Lain Termasuk Sumatera Barat
Pembaca di Padang tentu mengenal kuatnya peran adat basandi syarak dalam kehidupan sosial Minangkabau. Pengalaman DIY menaruh pendidikan khas kejogjaan ke tridarma bisa menjadi bahan renungan: kampus di Sumbar juga memiliki ruang untuk mempertegas kajian adat, sejarah nagari, serta etika berkomunikasi dalam ruang akademik. Bukan untuk menyalin model Yogyakarta, melainkan untuk menegaskan bahwa setiap daerah punya modal budaya yang layak diangkat secara ilmiah.
Kolaborasi antaruniversitas lintas provinsi semakin terbuka. Riset bersama tentang pendidikan berbasis budaya, pertukaran dosen tamu, atau publikasi jurnal bertema kearifan lokal dapat mempertemukan pengalaman DIY dengan praktik di Sumatera Barat. Dengan begitu, kebijakan satu daerah tidak berdiri sendiri, melainkan memperkaya diskursus nasional tentang jati diri dalam pendidikan tinggi.
- Penguatan kurikulum berwawasan budaya setempat
- Riset terarah pada warisan nilai dan praktik sosial
- Pengabdian yang melibatkan komunitas adat dan seni
- Pembinaan karakter mahasiswa lewat etiket dan sejarah lokal
Tantangan Implementasi di Perguruan Tinggi
Menyisipkan muatan budaya ke tridarma menuntut kesiapan dosen, bahan ajar, dan indikator evaluasi yang jelas. Tanpa panduan yang rapi, upaya tersebut berisiko menjadi kegiatan simbolik belaka. Perguruan tinggi perlu memastikan bahwa nilai kejogjaan diterjemahkan ke dalam capaian pembelajaran yang terukur, serta didukung pelatihan bagi pengajar yang datang dari latar belakang beragam.
Di sisi mahasiswa, tantangan muncul ketika sebagian merasa muatan lokal kurang relevan dengan jurusan teknik atau sains murni. Di sinilah pentingnya pendekatan lintas disiplin: nilai budaya dijelaskan sebagai kerangka etika profesional, kepekaan sosial, dan kemampuan membaca konteks masyarakat—kompetensi yang dibutuhkan di semua bidang ilmu.
Secara keseluruhan, langkah DIY memasukkan pendidikan khas kejogjaan ke tridarma perguruan tinggi menandai keseriusan merawat identitas lewat jalur akademik. Kebijakan serupa, jika dirancang sesuai karakter masing-masing daerah, berpeluang menumbuhkan lulusan yang unggul secara keilmuan sekaligus berakar pada budayanya. Untuk Padang dan Sumbar, berita ini menjadi pengingat bahwa kampus dapat menjadi rumah bagi adat dan ilmu secara bersamaan, asalkan dirancang dengan visi jangka panjang dan pelaksanaan yang konsisten.
Sumber: Antara.
