Penyanyi Vicky Shu kini menambah kesibukan baru dengan menempuh pendidikan Vicky Shu S2 di Universitas Brawijaya, Malang. Di tengah jadwal padat sebagai figur publik, ia memilih skema kuliah hybrid agar tetap bisa menyeimbangkan panggung, keluarga, dan ruang kelas. Keputusan itu tidak diambil sendiri; ada pembicaraan panjang bersama suami, Ade Imam, soal timing studi dan kualitas waktu bersama anak-anak.
Bagi pembaca di Padang dan Sumatra Barat yang mengikuti perjalanan artis tanah air, kisah ini menyoroti sisi lain selebritas: komitmen melanjutkan pendidikan formal meski sudah dikenal luas. Vicky mengaku menikmati masa kuliahnya, meski harus membagi energi antara pekerjaan dan kewajiban akademik.
Alasan memilih pascasarjana di tengah karier
Pelantun lagu yang pernah populer lewat karya seperti Mari Bercinta 2 itu diketahui terdaftar sebagai mahasiswa pascasarjana di kampus Malang tersebut. Model pembelajaran hybrid memungkinkannya mengikuti sebagian kegiatan secara daring dan luring, sehingga perjalanan ke kampus tidak harus setiap hari. Pendekatan ini semakin umum bagi profesional yang ingin naik jenjang pendidikan tanpa meninggalkan tanggung jawab utama.
Dalam perjumpaan di kawasan Tendean, Jakarta Selatan, Vicky menegaskan bahwa rasa senang terhadap proses belajar tetap ada meski agenda harian penuh. Ia tidak memandang gelar semata-mata sebagai pelengkap nama, melainkan sebagai ruang pengembangan diri yang dijalani dengan kesadaran penuh akan keterbatasan waktu.
Kesepakatan dengan suami soal waktu kuliah
Poin penting dari perjalanan studinya adalah kesepakatan rumah tangga. Vicky dan Ade Imam memutuskan tidak menempuh studi pada periode yang sama. Tujuannya jelas: menjaga kualitas kebersamaan dengan anak-anak agar salah satu orang tua tetap hadir secara lebih penuh ketika yang lain fokus pada perkuliahan.
Menurut penuturannya, diskusi justru berawal ketika suami lebih dulu mengambil program S2. Vicky sempat mempertanyakan mengapa keputusan itu tidak dibicarakan agar bisa berjalan bareng. Respons suami menekankan bahwa jurusan keduanya sudah berbeda, sehingga menempuh studi bersamaan tidak otomatis menjadi pilihan praktis maupun ideal bagi pola asuh keluarga.
Menyeimbangkan peran publik, ibu, dan mahasiswa
Figur publik sering menghadapi tuntutan tampil konsisten di media, panggung, dan media sosial. Menambah beban akademik berarti mengatur ulang prioritas harian, mulai dari jam belajar mandiri, pengumpulan tugas, hingga kehadiran hybrid. Vicky menggambarkan fase ini sebagai sesuatu yang dinikmati, bukan sekadar dilalui karena tekanan eksternal.
Bagi keluarga artis, risiko jadwal bentrok sangat nyata. Dengan menunda studi paralel, pasangan ini mencoba mengurangi tumpang tindih yang bisa mengurangi waktu pengasuhan. Pola semacam itu relevan juga bagi pekerja di daerah, termasuk di Padang, yang ingin kuliah sambil bekerja: komunikasi pasangan dan pembagian peran menjadi fondasi agar pendidikan tidak mengorbankan hubungan keluarga.
Kuliah hybrid sebagai pilihan praktis
Skema hybrid memberi fleksibilitas lokasi tanpa menghilangkan interaksi kampus sepenuhnya. Mahasiswa dapat mengikuti materi jarak jauh pada hari-hari sibuk, lalu hadir tatap muka ketika diperlukan. Bagi Vicky, format itu membantu menjaga ritme karier musik dan aktivitas publik sambil tetap terikat pada standar akademik Universitas Brawijaya.
- Diskusi pasangan mendahului keputusan lanjut studi
- Tidak kuliah S2 bersamaan demi waktu anak
- Pembelajaran hybrid menyesuaikan jadwal padat
- Suami lebih dulu memulai program pascasarjana
Secara keseluruhan, langkah Vicky Shu memperlihatkan bahwa melanjutkan pendidikan tinggi tetap terbuka bagi mereka yang sudah mapan di industri hiburan, asalkan perencanaan keluarga dan format kuliah diselaraskan. Kisah ini juga mengingatkan pembaca bahwa gelar bukan hanya soal prestise, melainkan soal manajemen waktu, komunikasi rumah tangga, dan komitmen jangka panjang terhadap belajar.
Informasi mengenai program yang dijalaninya dan kesepakatan bersama suami tersebut disampaikan Vicky saat ditemui di Jakarta Selatan belum lama ini, dan menjadi potret singkat bagaimana seorang penyanyi mengatur ulang prioritas demi ruang akademik yang lebih terstruktur.
Sumber: Sindo News.
