METRO
Indeks
Nasional

351 Umat Ikuti Potong Gigi Massal di Kampus Hindu Singaraja

Ritual metatah massal kembali digelar di Singaraja, Bali, dan menarik perhatian karena skalanya yang besar serta jangkauan peserta lintas wilayah. Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan memfasilitasi 351 umat Hindu menjalani upacara potong gigi bersama di kampus, langkah yang dinilai meringankan beban keluarga dalam memenuhi kewajiban keagamaan. Bagi pembaca di Padang dan Sumatera Barat, berita ini menampilkan wajah keragaman spiritual Indonesia yang tetap hidup di luar pulau Sumatera.

Ketua panitia, Ida Bhawati Dr. Ketut Agus Nova, menjelaskan di Kabupaten Buleleng pada Minggu bahwa penyelenggaraan ini merupakan Metatah Bersama yang ke-10. Seluruh peserta berkumpul di Kampus IAHN Mpu Kuturan Singaraja untuk mengikuti prosesi sakral yang sudah disiapkan secara terpadu oleh panitia dan civitas akademika.

Peserta dari Bali hingga luar pulau

Umat yang ikut tidak terbatas pada warga Buleleng. Panitia mencatat kehadiran peserta dari Jembrana, Karangasem, dan Tabanan, serta dari luar Bali seperti Kediri, Blitar, dan Nusa Tenggara Timur. Keberagaman asal daerah itu menegaskan bahwa kebutuhan akan upacara metatah dirasakan luas, termasuk oleh keluarga yang tinggal jauh dari pusat tradisi Bali.

Dengan format massal, biaya dan logistik yang biasanya memberatkan rumah tangga dapat ditanggung bersama. Pendekatan ini menjadi salah satu alasan banyak keluarga mempercayakan pelaksanaan ritual kepada kampus keagamaan tersebut.

Makna metatah dalam ajaran Hindu

Dalam pandangan Hindu, metatah atau potong gigi dimaknai sebagai upaya mengendalikan sifat-sifat buruk dalam diri. Ritual ini sekaligus menandai tahap kedewasaan seseorang secara keagamaan, sehingga posisinya penting dalam siklus hidup umat.

Karena itu, setiap tahapan disusun bukan sekadar seremoni, melainkan rangkaian penyucian dan permohonan berkah yang dijalani peserta bersama keluarga. Pendampingan keluarga di balai upacara menjadi bagian tak terpisahkan agar makna spiritual tetap utuh.

Alur prosesi dari penyucian hingga penutupan

Kegiatan dibuka dengan registrasi, lalu peserta menjalani penyekeban atau magekeb sebagai persiapan dan penyucian diri. Tahap awal meliputi mabiyakala untuk membersihkan pengaruh negatif, durmanggala untuk menyucikan hal-hal yang tidak baik, serta prayascita sebagai penyucian lahir dan batin.

Peserta kemudian bersembahyang memohon anugerah kepada Dewaning Tatah agar upacara berjalan lancar. Dilanjutkan natab banten menek bajang, termasuk ngeraja swala bagi perempuan dan ngeraja singa bagi laki-laki sebagai simbol masuk masa dewasa. Prosesi mapetik atau potong rambut simbolis dan merajah atau pemberian simbol suci pada tubuh mendahului metatah inti di balai yang telah disiapkan.

Usai prosesi utama, sulinggih melaksanakan ngarga tirta dan mapedudusan. Rangkaian diteruskan dengan natab banten petatahan serta pangubaktian. Acara ditutup secara seremonial, dilengkapi sembah sungkem kepada orang tua dan pembacaan Parama Santi sebagai doa penutup memohon damai dan keselamatan.

  • Registrasi dan penyekeban sebagai pembuka
  • Penyucian mabiyakala, durmanggala, dan prayascita
  • Persembahyangan, mapetik, merajah, lalu metatah inti
  • Ngarga tirta, mapedudusan, dan doa penutup Parama Santi

Dukungan kampus dan program Kementerian Agama

Wakil Rektor III IAHN Mpu Kuturan Singaraja, Dr. I Nyoman Miarta Putra, M.Ag., menegaskan bahwa metatah bersama merupakan wujud komitmen kampus mendukung program Kementerian Agama Berdampak yang digagas Kementerian Agama RI bersama Ditjen Bimas Hindu. Pelaksanaan diperkuat UKM Upakara serta dukungan rektor dan seluruh jajaran.

Menurutnya, kegiatan ini adalah pengabdian masyarakat sekaligus pelayanan keagamaan Hindu yang inklusif dan berdampak langsung. Ucapan terima kasih disampaikan kepada umat yang mempercayakan upacara kepada IAHN Mpu Kuturan, disertai harapan agar program serupa berlanjut dan bermanfaat lebih luas.

Dari kacamata pembaca Padang, inisiatif kampus keagamaan di Bali ini menjadi contoh konkret bagaimana lembaga pendidikan dapat memadukan tridharma dengan pelayanan ritual yang menyentuh kebutuhan umat sehari-hari, tanpa menggeser makna sakral yang diwariskan turun-temurun.

Sumber: Republika.

Tag: metatah massal, IAHN Mpu Kuturan, Singaraja Bali, umat Hindu, potong gigi, Buleleng, Kementerian Agama, upacara Hindu