METRO
Indeks
Nasional

Hampir Sembilan Ribu Gempa Susulan Landa NTT dalam Dua Minggu

Jumlah gempa susulan NTT terus meningkat dan kini mencapai 8.794 kali sejak guncangan utama magnitudo 7,7 pada 15 Agustus 2026. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menegaskan aktivitas seismik itu diprakirakan masih berlangsung beberapa minggu ke depan, sementara ribuan warga di wilayah terdampak belum sepenuhnya kembali ke rumah.

Bagi pembaca di Padang dan Sumatera Barat yang akrab dengan ancaman gempa, perkembangan di Nusa Tenggara Timur menjadi pengingat pentingnya kesiapsiagaan, data korban yang akurat, serta penyaluran bantuan yang terkoordinasi. Berikut ringkasan data resmi yang disampaikan pejabat BNPB pada Jumat, 28 Agustus 2026.

Rekap BMKG dan rentang kekuatan susulan

Plt. Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Berton SP Panjaitan, menyatakan bahwa hingga sore hari laporan tersebut, BMKG telah mencatat 8.794 kali gempa susulan setelah peristiwa magnitudo 7,7. Kekuatan guncangan susulan bervariasi mulai magnitudo 1,0 hingga puncak magnitudo 6,2.

Dari keseluruhan catatan itu, 152 kejadian dirasakan langsung oleh penduduk. Para ahli memperkirakan rangkaian aktivitas susulan masih berlanjut selama sekitar tiga hingga empat minggu sejak gempa utama, atau kurang lebih sebulan ke depan. Pemantauan intensif tetap dilakukan agar peringatan dini dan respons lapangan tidak longgar.

Sebaran korban jiwa dan profil demografi

Gempa utama dan dampaknya menewaskan 111 orang. Hingga Kamis sebelum pernyataan tersebut, tidak ada penambahan angka kematian. Kabupaten Manggarai mencatat korban terbanyak dengan 45 jiwa, disusul Manggarai Timur 38 jiwa, serta Nagekeo 13 jiwa.

Komposisi korban menunjukkan 56,4 persen perempuan dan 43,6 persen laki-laki. Kelompok umur didominasi lansia sekitar 45 persen, diikuti usia dewasa 37 persen. Angka ini menegaskan kerentanan penduduk lanjut usia dan perempuan pada saat bangunan rusak serta akses evakuasi terbatas.

Pengungsi masih ratusan ribu, sebagian mulai pulang

Meski sebagian warga berangsur kembali, total pengungsi di NTT masih tercatat 175.909 jiwa. Di Kabupaten Sikka, 712 orang dilaporkan telah meninggalkan pos pengungsian dan kembali ke rumah masing-masing. Penurunan bertahap ini menjadi sinyal positif, namun banyak keluarga lain masih ragu karena takut guncangan susulan atau kondisi hunian yang belum layak.

BNPB mengimbau warga yang belum merasa aman untuk memanfaatkan posko pengungsian terpusat. Skema itu dinilai mempermudah distribusi logistik, air bersih, fasilitas MCK, dapur umum, serta layanan kesehatan dasar agar bantuan tidak tersebar terlalu tipis di titik-titik kecil.

  • Total susulan tercatat: 8.794 kali
  • Korban meninggal: 111 orang
  • Pengungsi terkini: 175.909 jiwa
  • Susulan dirasakan warga: 152 kejadian

Pelajaran kesiapsiagaan untuk daerah rawan gempa

Wilayah Padang dan Sumbar memiliki sejarah guncangan kuat sehingga data NTT relevan sebagai bahan edukasi publik. Kecepatan rekap korban, pemetaan lansia dan perempuan, serta pengaturan posko terpusat menjadi praktik yang layak dicermati pemerintah daerah dan komunitas siaga bencana di pantai barat Sumatera.

Transparansi angka dari BNPB dan BMKG juga membantu keluarga perantau dari NTT yang tinggal di Sumatera Barat memantau kondisi kerabat. Informasi resmi tetap menjadi rujukan utama ketimbang spekulasi di media sosial, terutama saat frekuensi susulan masih tinggi.

Pemerintah pusat dan daerah terus mengawal pemulihan, sementara warga diimbau mengikuti arahan posko dan tidak memaksakan kembali ke bangunan yang belum diperiksa kelayakannya. Pemantauan seismik berlangsung setidaknya hingga tiga–empat minggu setelah gempa utama, sehingga kewaspadaan kolektif masih diperlukan.

Sumber: Liputan6.

Tag: gempa susulan NTT, BNPB, korban gempa Manggarai, pengungsi NTT, BMKG, bencana Nusa Tenggara Timur, kesiapsiagaan gempa