Upaya menyelamatkan korban gempa NTT menjadi perhatian Kementerian Kesehatan agar jumlah meninggal dunia tidak bertambah. Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin menegaskan bahwa masa satu hingga dua minggu pertama pascabencana adalah jendela kritis untuk merujuk pasien berat ke fasilitas yang memadai. Prioritas diarahkan pada kelompok triase merah dan kuning yang membutuhkan tindakan segera.
Prioritas pemerintah cegah kematian tambahan
Dalam rapat kerja bersama Komisi IX DPR RI pada Kamis, 27 Agustus 2026, Budi menekankan bahwa fokus utama adalah memastikan luka serius tertangani sebelum kondisi memburuk. Ia menyampaikan bahwa data korban terus bergerak, namun identifikasi sudah mendekati 95 persen sehingga lokasi pasien merah dan kuning semakin jelas dipetakan.
Pemerintah ingin menghindari lonjakan kematian dengan mempercepat rujukan rumah sakit bagi yang paling rentan. Pendekatan ini menempatkan triase sebagai pintu gerbang alokasi sumber daya medis yang terbatas di wilayah terdampak.
Akses terbatas dan kekurangan tenaga kesehatan
Di lapangan, penanganan korban gempa NTT masih terbentur akses yang sulit. Sejumlah fasilitas kesehatan tidak dapat beroperasi penuh karena tenaga kesehatan tidak tersedia untuk menjangkau desa-desa terpencil. Akibatnya, pasien dengan kategori merah ada yang tetap dirawat mandiri di rumah tanpa pengawasan profesional.
Keterbatasan sumber daya manusia memperlambat respons medis di titik-titik yang paling membutuhkan. Kondisi ini memperbesar risiko komplikasi jika rujukan tidak segera dilakukan dalam jangka waktu yang telah disoroti Menkes.
Kepercayaan pengobatan tradisional menjadi tantangan
Selain isu logistik dan SDM, faktor budaya turut memengaruhi keberhasilan penanganan. Budi menjelaskan bahwa sebagian masyarakat NTT masih lebih mempercayai perawatan tradisional dibanding layanan medis profesional, termasuk pada kasus patah tulang. Kebiasaan itu membuat sebagian korban enggan atau terlambat masuk ke jalur pengobatan formal.
Menkes membandingkan fenomena tersebut dengan pengalaman di daerah lain yang juga mengenal praktik tradisional, tanpa menafikan pentingnya edukasi agar cedera berat tetap mendapat intervensi medis yang tepat. Komunikasi dengan tokoh setempat menjadi kunci agar triase dan rujukan tidak terhambat.
Pelajaran kesiapsiagaan bagi daerah rawan gempa
Bagi pembaca di Padang dan Sumatera Barat yang akrab dengan risiko gempa, paparan Menkes mengingatkan pentingnya rantai rujukan, ketersediaan nakes di desa, serta sosialisasi agar cedera serius tidak hanya ditangani secara mandiri. Tanpa mengada-ada data lokal baru, intinya tetap sama: deteksi dini kategori merah-kuning dan akses faskes menentukan angka keselamatan.
Pemetaan pasien, penguatan fasilitas dasar, dan jembatan antara layanan modern dengan kearifan lokal menjadi paket yang saling terkait. Koordinasi pusat-daerah serta dukungan logistik ke wilayah sulit jangkau tetap diperlukan agar target tidak menambah korban jiwa dapat dicapai.
Secara keseluruhan, arahan Budi Gunadi Sadikin menempatkan pencegahan kematian tambahan sebagai barometer keberhasilan. Dengan hambatan akses, SDM, dan preferensi tradisional yang sudah diungkap terbuka, langkah berikutnya bergantung pada percepatan rujukan dan pemulihan layanan di titik terdampak NTT.
Sumber: Liputan6.
